MODEL PEMBELAJARAN TERPADU FRAGMENTED
(TERPISAH) DAN CONNECTED (KETERHUBUNGAN)
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas dari Ibu
Rokayah, M.Pd. mata kuliah Pembelajaran
Tematik Terpadu
Oleh :
Farida
Ulfah
PGSD Unit Cimanggung
Semester 5/Tingkat III
2017/2018
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan
pembelajaran yang digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran,
pengelolaan kelas
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian model pembelajaran Fragmented dan Connected?
2. Apa
manfaat model pembelajaran Fragmented dan Connected?
3. Apa
kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Fragmented dan Connected?
4. Bagaimana
penerapan model Fragmented dan Connected di SD?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian model pembelajaran Fragmented dan Connected.
2. Untuk
mengetahui manfaat model pembelajaran Connected dan Fragmented.
3. Untuk
mengetahui kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Fragmented dan Connected.
4. Untuk
mengetahui penerapan model Fragmented dan Connected di SD.
BAB II
Pembahasan
A.
MODEL
FRAGMENTED (TERPISAH)
Model Fragmented
adalah susunan kurikulum tradisional yang memisahkan berbagai macam disiplin
ilmu. Di dalam kurikulum standar, berbagai mata pelajaran diajarkan secara
terpisah dan sama sekali tidak ada usaha untuk menghubungkan dan menggabungkan
pelajaran-pelajaran tersebut.
Setiap mata pelajaran
diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap
mata pelajaran memiliki ranahnya tersendiri dan tidak ada usaha untuk
mempersatukannya.
Berdasarkan pernyataan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa model fragmented ini menunjukkan
pengintegrasian secara implisit di dalam satu displin ilmu tertentu (intra
disiplin). Di dalam masing-masing disiplin ilmu itu memiliki bagian-bagian atau
bidang-bidang ilmu yang merupakan satu kesatuan dalam bidang ilmu tersebut.
Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesi terdapat lima aspek yaitu:
Berbicara, menulis, menyimak, membaca, dan apresiasi sastra. Dalam pelaksanaan
pembelajaran Bahasa Indonesia ini lima aspek tersebut dianjurkan secara
menyeluruh sesuai dengan kurikulum yang telah direncanakan.
Untuk mata pelajaran IPA
terdiri atas ilmu Kimia, Fisika, dan Biologi. Sedangkan matapelajaran IPS
terdiri atas ilmu Geografi, Sejarah, dan Ekonomi.
1.
MANFAAT
MODEL FRAGMENTED
Salah satu manfaat dari model fragmented ini adalah
menjaga agar suatu matapelajaran terjaga keaslian dan kemurniannya tidak
tercampuri dengan matapelajaran yang lainnya. Oleh karena itu model ini
menyiapkan seorang guru yang betul-betul pakar atau ahli di bidang
matapelajaran yang ia ajarkan dan mampu mengajarkan, menggali, dan memahami
materi tersebut secara luas dan mendalam. Dan model ini juga memberikan “zona
kenyamanan” bagi seluruh pesertanya artinya guru akan ditempatkan sebagai
seorang sumber belajar, sedangkan siswa sebagai pencari ilmu yang berbeda.
Dengan bantuan seorang guru siswa akan banyak mendapatkan manfaat dari model
fragmented ini.
2.
KEGUNAAN
MODEL FRAGMENTED
Model fragmented ini akan berguna apabila diterapkan
pada sekolah dasar yang siswanya memiliki berbagai macam karakter yang berbeda
dengan berbagai macam bidang ilmu yang ada yang nantinya siswa akan didorong
untuk memilih jurusan yang paling mereka sukai. Dan model ini sangat bermanfaat
pada tingkat menengah atas dan universitas di mana masing-masing siswa akan
kita dorong untuk menentukan dan mengkhususkan bidang keahlian yeng meraka
miliki melalui serangkaian aktivitas seperti monitoring, pelatihan, serta kerja
sama belajar. Selain itu model ini juga sangat bermanfaat untuk guru yang ingin
lebih spesifik dalam keahliannya di bidang ilmu tertentu dan menggembangkan
kurikulum yang ada dalam proses pembelajaran di kelas.
3.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN MODEL FRAGMENTED
a)
Kelebihan
1) Guru dapat menyiapkan bahan ajar sesuai dengan bidang
keahliannya dan dengan mudah menentukan ruang lingkup bahasan yang
diprioritaskan dalam setiap pengajaran
2)
Materi pelajaran
merupakan bentuk yang murni dari setiap ilmu
3)
Menciptakan guru
yang ahli dibidangnya serta dapat mengembangkan ilmunya secara luas
b)
Kekurangan
1)
Siswa tidak mampu
membuat hubungan yang berkesinambungan antara macam bidang ilmu yang berbeda
sehingga mereka tidak mampu membuat hubungan secara konsep dua mata pelajaran
yang berbeda.
2)
Model ini akan
menyebabkan semacam proses tumpang tindih dalam hal konsep, perilaku dan konsep
yang dikuasai siswa.
3) Tidak efisien waktu karena mata pelajaran disajikan
secara terpenggal-penggal.
4.
PENERAPAN
MODEL FRAGMENTED
Menurut Fogarty, 1991 (dalam Abdullah, 2007) model fragmented sangat cocok
diterapkan pada tahap penjurusan mata pelajaran misalnya diterapkan pada
tingkat Universitas ataupun Sekolah Menengah Atas yang dalam proses
pembelajarannya terdapat penjurusan/pemisahan mata pelajaran.
Akan tetapi di Sekolah Dasar juga dapat diterapkan baik di kelas rendah
maupun di kelas tinggi yaitu di kelas. Tergantung bagaimana guru bisa mengemas
pembelajaran sebaik mungkin, agar siswa bisa lebih bermakna dalam mengikuti
pembelajaran.
Sebagai contoh penerapan, berikut ini tentang pembelajaran Bahasa Indonesia
di sekolah dasar dengan menggunakan pembelajaran terpadu model fragmented.
Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan
berbahasa siswa baik lisan maupun tertulis. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan
mendengarkan, membaca, berbicara, menulis, dan apresiasi sastra. Dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan kelima kemampuan tersebut dapat
meningkat baik secara lisan maupun tertulis.
Untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berbahasa siswa diperlukan
berbagai usaha, strategi maupun metode yang inovatif dan kreatif sehingga
pembelajaran Bahasa Indonesia tidak menjadi pembelajaran yang membosankan bagi
siswa. Dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
diharapkan siswa dapat belajar mandiri dan merasa bertanggung jawab untuk
mengembangkan kemampuannya sendiri tanpa ada paksaan dari guru. Untuk mencapai
tujuan tersebut seorang guru harus berusaha untuk membuat rencana pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan, potensi, sarana dan prasarana yang tersedia.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kelima aspek kemampuan berbahasa
tersebut harus diberikan secara menyeluruh dan terencana, sehingga diharapkan
siswa dapat meningkatkan dan menguasai kelima aspek tersebut baik secara lisan
maupun tulis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun dalam pembelajaran model Fragmented ini kelima
aspek dalam keterampilan berbahasa di penggal-penggal dalam waktu yang berbeda.
Hal itu dimaksudkan agar siswa bisa menguasai suatu pembelajaran secara
mendalam. Model Fragmented ini dalam pemenggalannya bisa disampaikan dalam
waktu yang berbeda atau juga penggunaan guru yang berbeda.
5.
CONTOH
APLIKASI MODEL FRAGMENTED
Adapun
aplikasi yang diterapkan seorang guru pada model pembelajaran fragmented antara
lain, sebagai berikut:
a) Seorang
guru Bahasa akan menugaskan muridnya untuk menonoton berita sebagai pekerjaan
rumah. Lalu murid akan lebih mengenal alur dari berita tersebut dan
berkonsentrasi dengan baik pada saat mendengarkan berita tersebut.
b) Guru
Matematika akan melakukan permulaan pembelajaran dengan teorema-teorema agar
murid dapat menguasai suatu bab dengan baik.
B.
MODEL
CONNECTED (KETERHUBUNGAN)
Model Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa
sebenarnya dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan antara
topik dengan topik, konsep dengan konsep dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu
mata pelajaran dapat memfokuskan sub-sub yang saling berkaitan.
Pembelajaran terpadu model keterhubungan (connected
model) menurut Fogarty ( dalam Yunitha, dkk, 2014 ) adalah : “model focuses
on making explicit connections with each subject area, connecting one topic to
the next, connecting one concept to another, connecting a skill to relatied
skill, connecting one day’s work to the next, or even one semester’s ideas to
the next”. Pengertian tersebut menunjukkankan bahwa fokus model connected adalah
pada keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan
antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini
dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan
ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Menurut Novi Resmini ( dalam Yunitha, dkk,
2014 ) model connected dilandasi oleh anggapan bahwa butir-butir
pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Butir-butir
pembelajaran kosakata, struktur, membaca, dan mengarang misalnya dapat dipayungkan
pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Penguasaan butir-butir
pembelajaran tersebut merupakan keutuhan dalam membentuk kemampuan berbahasa
dan bersastra. Hanya saja pembentukan pemahaman, keterampilan dan pengalaman
secara utuh tersebut tidak berlangsung secara otomatis. Karena itu guru harus
menata butir-butir pembelajaran dan proses pembelajarannya secara terpadu.
1.
MANFAAT
MODEL CONNECTED
Model
pembelajaran terpadu tipe Connected (terhubung) berguna sebagai
langkah awal menuju kurikulum yang integral
(terpadu). Guru merasa yakin
dalam mencari
hubungan antar konsep, ide, topik dan keterampilan dalam
satu disiplin ilmu (mata pelajaran). Dengan kemampuan/keahlian dalam menghubungkan konsep
dalam satu disiplin ilmu, menjadikan mereka ahli/mudah untuk menghubungkan
konsep, topik, keterampilan lintas disiplin ilmu (mata
pelajaran). Juga dalam hal
pembuatan koneksi bisa dilakukan secara kolaboratif dalam pertemuan tim guru. Penggunaan model connected dalam suatu sekolah atau
tingkat yang lebih tinggi oleh tim guru merupakan cara/strategi yang
terbaik/bermanfaat untuk menghasilkan model integrasi/penggabungan yang lebih
kompleks pada suatu saat nanti.
2.
KEGUNAAN
MODEL CONNECTED
Model connected pada dasarnya menghubungkan topik-topik dalam
satu disiplin ilmu. Konsep-konsep yang saling terhubung tersebut mengarah pada
pengulangan (review), rekonseptualisasi, dan asimilasi gagasan-gagasan dalam
suatu disiplin ilmu. Dalam model connected, hubungan antar disiplin ilmu tidak
berkaitan, content tetap focus pada satu disiplin ilmu.
3.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN MODEL CONNECTED
a)
Kelebihan
1) Dampak
positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik
memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada
suatu aspek tertentu.
2) Peserta
didik dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga
terjadilah proses internalisasi.
3) Menghubungkan
ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi peserta didik untuk
mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara
terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide
dalam memecahkan masalah.
4) Adanya
hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran
yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik diberi
kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi
gagasan secara bertahap.
b)
Kekurangan
1) Masih
kelihatan terpisahnya antar bidang studi, walaupun hubungan dibuat secara
eksplisit antara mata pelajaran (interdisiplin). (Hadisubroto, dalam Trianto)
2) Tidak
mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja
terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
3) Memadukan
ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan
antar bidang studi menjadi terabaikan.
4) Model
ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan
bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
4.
PENERAPAN
MODEL CONNECTED
Dalam proses belajar mengajar, model
connected digunakan untuk menghubungkan beberapa materi atau kompetensi
tertentu yang memiliki karakteristik yang saling terkait dengan tetap
berpedoman pasa standar kompetensi dan kompetensi dasar. Adapun cara
menghubungkan materi-materi yang saling terkait tersebut ialah dengan membuat
“jembatan pengetahuan”. Jembatan pengetahuan dapat berupa wacana, berita,
diskusi, alat peraga dan lain-lain yang dianggap mampu mengantarkan pemahaman
siswa dari materi satu ke materi brikutnya. Materi-materi yang tidak memiliki
keterkaitan tidak bisa dipaksakan untuk dihubungkan. Jika dipaksakan,
dimungkinkan siswa akan semakin bingung dalam merekonstruksi pengetahuan.
5.
CONTOH
APLIKASI MODEL CONNECTED
Pembelajaran
berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan
aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra.
a) Aspek
mendengarkan: mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengarnya
b) Aspek
berbicara: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang
tepat
c) Aspek
membaca: menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat
d) Aspek
menulis: menulis dialog sederhana dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi
serta perannya.
C.
LANGKAH-LANGKAH
PEMBELAJARAN TERPADU MODEL FRAGMENTED DAN CONNECTED
Karena
dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya dapat diakomodasi dari berbagai model
pembelajaran.
1. Tahap
Perencanaan
a) Memilih
kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang akan
dipadukan
b) Merumuskan
Indikator Hasil Belajar
c) Menentukan
langkah-langkah pembelajaran
2. Tahap
Pelaksanaan
3. Tahap
Evaluasi
BAB III
Penutup
A.
SIMPULAN
Model Fragmented adalah susunan kurikulum tradisional
yang memisahkan berbagai macam disiplin ilmu. Di dalam kurikulum standar,
berbagai mata pelajaran diajarkan secara terpisah dan sama sekali tidak ada
usaha untuk menghubungkan dan menggabungkan pelajaran-pelajaran tersebut.
Model
Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata pelajaran
berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan konsep
dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan sub-sub
yang saling berkaitan.
B.
SARAN
Dengan pembelajaran terpadu menggunakan model fragmented dan
model connected, diharapkan pemikiran siswa akan berkembang tanpa dibatasi oleh
materi-materi dan tuntutan pembelajaran yang justru akan membingungkan siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah.
(2007). “Pengertian Kurikulum Model Fragmented (Penggalan)”. Jurnal Pendidikan.
Malang : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri
Malang. No.2 Vol.19 (01-02).
Yunitha,
dkk. (2014). “Pengaruh Model Pembelajaran Terpadu Tipe Connected Terhadap Siswa
kelas IV SD”. Jurnal Pendidikan. Singaraja : FIP Universitas Pendidikan
Ganesha. No.1 Vo.1 (03-07).
Resmini,
Novi. “Model-model Pembelajaran Terpadu”. Jurnal Pendidikan. Bandung : FKIP
Universitas Pendidikan Indonesia.
Artikel Online
Syaefulrachman,
Yogi (2012). “Pembelajaran Terpadu Model Fragmented”. Tersedia (Online) : https://yogisyaefulrachman.wordpress.com/2012/11/16/makalah-pembelajaran-terpadu-model-fragmented-dan-connected/ [24 September 2017
@18:31]
Blogulum. (2016). “Model Connected
(Terhubung)”. Tersedia [Online] : http://blogeulum.blogspot.co.id/2016/03/model-connected-terhubung.html
[24 September 2017 @18:37]
Wordpress. (2013). “Pembelajaran Terpadu
Tipe Connected”. Tersedia [Online] : https://journal424.wordpress.com/2013/02/10/pembelajaran-terpadu-tipe-connected/comment-page-1/ [24
September 2017 @18:42]
